Tipe Letusan Merapi Berubah

Yogyakarta (ANTARA News) – Gunung Merapi dinilai tipe letusannya kini berubah. Penilaian itu dikatakan ahli vulkanologi dari Universitas Kyoto Jepang Masato Iguchi.

Ia mengatakan tipe letusan Merapi mengalami perubahan dibandingan dengan letusan sebelum 2006 yang ditandai dengan adanya pembentukan kubah lava.

“Saya hingga kini belum mengetahui penyebab mengapa tipe letusan Gunung Merapi berubah, namun perubahan tipe letusan seperti ini sering terjadi di sejumlah gunung berapi lainnya, salah satunya gunung berapi di Jepang, Miyake Jima,” katanya, di Yogyakarta, Jumat.

Sebelumnya, Direktur Penerangan dan kebudayaan Besar Jepang di Indonesia Masaki Tani mengatakan tiga ahli vulkanologi asal Jepang akan membantu melakukan survei kondisi bencana letusan Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Tiga vulkanolog itu, yakni Kenji Nogami (ahli di bidang “volcanic chemistry”), Masato Iguchi (ahli di bidang “physical vulcanology”), dan Takayuki Kaneko (ahli di bidang “volcano geology”). Selain itu ada ahli di bidang penyakit saluran pernapasan Satoru Ishii.

“Kami akan terus memberikan pendampingan dari sisi keilmuan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral,” kata Iguchi.

Gunung Miyake Jima di Jepang, kata dia, memiliki tipe erupsi yang sama yaitu meletus setiap 20 tahun sekali ditandai dengan keluarnya aliran lava, namun pada 2000 gunung tersebut meletus dengan membuat kaldera berdiameter satu kilometer, dan letusan besar dengan kolom asap setinggi 10 km.

“Perubahan itu disebabkan adanya pergerakan magma dalam volume yang cukup besar, namun belum bisa memastikan apakah hal itu juga terjadi di Gunung Merapi,” kata Iguchi.

Mengenai pemasangan mikrofon infrasonik untuk Gunung Merapi, Icuchi mengatakan alat tersebut sangat efektif untuk memantau gunung ini karena terkadang puncak gunung ini diselimuti kabut, sehingga tidak terlihat adanya letusan, padahal kenyataannya gunung tersebut meletus.

Alat tersebut, kata dia akan dipasang di luar radius 20 kilometer dari puncak Merapi sesuai radius aman yang telah ditetapkan PVMBG, salah satunya di dekat Prambanan.

Tiga mikrofon infrasonik akan dipasang untuk mempertajam pantauan Gunung Merapi, sehingga PVMBG akan memperoleh gambaran aktivitas gunung itu lebih baik.

“Pengamat selama ini sering tidak mendengar letusan Gunung Merapi, meskipun sebenarnya gunung meletus sehingga dengan adanya mikrofon infrasonik maka akan diperoleh data lebih baik tentang letusan Merapi,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, mikrofon infrasonik tersebut akan mampu menangkap gelombang udara yang diakibatkan letusan Gunung Merapi dan pengamat tidak hanya mendasarkan pengamatan pada seismograf atau pengamatan visual. “Kami kemudian akan menganalisa data yang masuk sehingga memperoleh statistik yang baik tentang jumlah letusan Merapi,” katanya.

Ia mengatakan alat serupa telah dipasang di sejumlah gunung api lain di Indonesia seperti Gunung Krakatau dan Gunung Semeru.

Pemasangan mikrofon infrasonik merupakan hasil kerja sama dengan Jepang yang juga mengirimkan tiga ahli gunung api ke Indonesia untuk melakukan pemantauan terhadap Merapi.

“Meskipun ada bantuan dari Jepang, bukan berarti tenaga dari Indonesia masih kurang. Segala pertimbangan dan keputusan juga masih berada di tangan saya,” katanya.

Ketiga ahli dari Jepang tersebut melakukan pantauan dari tiga sisi yang saling berkaitan, yaitu geofisik, geokimia, dan geologi.

Mengenai pemasangan mikrofon infrasonik itu, Iguchi mengatakan alat tersebut akan efektif karena terkadang puncak Gunung Merapi diselimuti kabut sehingga tidak terlihat adanya letusan, padahal kenyataannya gunung tersebut meletus. “Kami akan terus memberikan pendampingan dari sisi keilmuan kepada PVMBG,” katanya.

Intensitas erupsi menurun

Intensitas erupsi Gunung Merapi pada Jumat mulai pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB masih berlangsung, namun cenderung menurun dengan disertai suara gemuruh lemah sampai sedang yang terdengar di kawasan Kaliurang.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan berdasarkan hasil pemantauan yang diperoleh jumlah kegempaan terjadi tremor beruntun, 10 guguran, dan dua kali gempa teknonik.

Selebihnya, kata dia, gempa vulkanik, multiphase, dan “low frequency” tidak terdeteksi. Pada pukul 12.54 WIB awan panas meluncur ke arah Selatan.

Ia mengatakan endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi dari arah tenggara, selatan, barat daya, barat, hingga barat laut yang meliputi Kali Woro, Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Sat, Lamat, Senowo, Tringsing, dan Kali Apu.

Surono mengatakan lahar di Kali Boyong telah diendapkan di Dusun Kardangan Desa Purwobinangun, Pakem yang berjarak sekitar 16 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Lahar di Kali Kuning telah mengisi penuh Jembatan Sidorejo, Dusun Sidorejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem yang berjarak 9,5 kilometer dari puncak Merapi,” katanya.

Dia nengatakan di alur Kali Gendol lahar telah mengisi penuh dam di Dusun Morangan Desa Sindumartani yang berjarak 16,5 kilometer dari puncak Merapi.

Berdasarkan laporan dari Pos Ketep, cuaca cerah diselingi kabut dari dini hari hingga siang ini terus terjadi. Tampak asap berwarna putih hingga cokelat condong ke selatan, barat daya, barat hingga barat laut setinggi 1.000 meter dari puncak Gunung Merapi dan bertekanan lemah.

Harus tetap diwaspadai

Kepala Badan Geologi R Sukhyar mengatakan saat ini Gunung Merapi sedang memasuki masa “istirahat”, namun belum dapat dipastikan apakah fase erupsi gunung ini telah berakhir.

“Sekarang justru harus tetap diwaspadai, apakah masa istirahat ini dimanfaatkan oleh Merapi untuk keluar dari sistem yang telah terbentuk, dan nanti erupsi lagi atau tidak,” kata Sukhyar, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, kewaspadaan tersebut perlu tetap dipertahankan karena kejadian serupa juga terjadi pascaletusan 26 Oktober 2010.

Pascaletusan 26 Oktober, Gunung Merapi juga mengalami masa istirahat, namun kemudian terjadi erupsi eksplosif yang sangat besar selama periode 3-8 November dengan puncak letusan pada 5 November 2010.

Sukhyar mengatakan, masa istirahat tersebut harus dilihat dari jarak antar puncak letusan Gunung Merapi yaitu pada 26 Oktober hingga 5 November yang berjarak sekitar 10 hari.

“Secara teori, dalam masa istirahat ini Gunung Merapi akan membentuk gelembung-gelembung gas yang memungkinkan adanya letusan eksplosif,” katanya.

Sukhyar memperkirakan letusan besar yang dimulai sejak 3 November 2010 ditandai dengan keluarnya awan panas selama lebih dari dua jam secara berturut-turut, dan kemudian dilanjutkan dengan letusan tanpa henti hingga 8 November 2010, merupakan satu paket letusan besar. “Yang paling diharapkan adalah, Gunung Merapi tidak meletus lagi karena sekarang tingkat eksplosifitasnya sudah rendah,” katanya.

Berdasarkan jumlah material yang telah dimuntahkan oleh Gunung Merapi sejak letusan 26 Oktober, dapat diketahui indeks letusan gunung tersebut atau “volcanic eksplosivity indeks” (VEI) adalah empat. “VEI dengan jumlah material yang dimuntahkan antara 100 juta meter kubik hingga 1 miliar meter kubik adalah empat,” katanya.

Sementara itu, pada Jumat sekitar pukul 12.54 WIB, Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur tiga hingga empat kilometer ke arah selatan.

Kepala PVMBG Surono mengatakan dengan semakin tidak adanya halangan di puncak gunung akibat erupsi yang terus-menerus, jarak luncur awan panas skala kecil bisa mencapai tiga kilometer. “Biasanya, dalam waktu dua menit, jarak luncur awan panas adalah satu kilometer, namun sekarang jarak luncurnya bisa mencapai tiga kilometer,” katanya.

PVMBG tetap memberlakukan radius aman 20 kilometer (km) karena sebaran awan panas tidak hanya ke selatan, tetapi juga ke berbagai arah seperti ke barat dan barat daya.

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan hingga pukul 12.00 WIB, gempa tremor masih terjadi secara beruntun, 10 kali guguran dan dua kali gempa tektonik.

Awan panas muncul lagi

Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas besar pada Jumat pukul 17.38 WIB, terjadi selama lebih dari satu jam.

Berdasarkan pantauan kamera CCTV yang dipasang di Deles Klaten, Jawa Tengah, juga terlihat kolom asap cukup tinggi yang diikuti dengan munculnya lava pijar yang cukup besar sekitar pukul 18.45 WIB.

“Kami masih tetap menyatakan status Gunung Merapi dalam keadaan `awas` meskipun dalam beberapa hari terakhir ini intensitas seismik Merapi menurun,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, luncuran awan panas selama lebih dari satu jam tersebut cukup berbahaya karena kondisi di Gunung Merapi sudah seperti jalan tol karena tidak ada lagi penghalang di sepanjang lereng tersebut seperti pepohonan.

Oleh karena itu, lanjut dia, diperkirakan luncuran awan panas tersebut kemungkinan bisa mencapai jarak cukup jauh.

Sebelumnya, pada pukul 12.54 WIB juga muncul awan panas berdurasi sekitar tiga menit yang meluncur ke arah selatan sejauh tiga hingga empat kilometer.

Pascaletusan 26 Oktober 2010, intensitas seismik Merapi juga sempat mereda, namun kembali meletus besar pada 3 November dengan puncak letusan pada 5 November 2010.

“Masyarakat tetap diminta untuk berada di luar radius 20 kilometer sebagai radius berbahaya yang telah ditetapkan sebelumnya ataupun beraktivitas di sepanjang alur sungai berhulu di Merapi,” katanya.

Surono mengatakan energi yang tersimpan di perut Merapi masih cukup besar, dan besarnya energi tersebut berbanding lurus dengan letusan.

Ia mengatakan, kemungkinan sejumlah daerah yang terletak di sisi barat dan barat daya Gunung Merapi akan kembali mengalami hujan pasir dan hujan abu.

Adanya hujan pasir dan abu tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Merapi masih tinggi sehingga bisa menjadikan kewaspadaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Namun demikian, ia mengatakan relokasi warga yang semula tinggal di sekitar Merapi bukan merupakan pilihan terakhir, karena yang lebih penting dilakukan adalah manajemen risiko letusan gunung berapi ini.

“Tanah di sekitar gunung api tersebut akan semakin subur. Tetapi masyarakat juga perlu memiliki manajemen risiko yang baik,” katanya.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1289584888/tipe-letusan-merapi-berubah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s